Demo Buruh di Jantung Kota: Dialog Jadi Solusi, Pengacara Soroti Dampak Aksi di Depan LPS Surabaya

Demo Buruh di Jantung Kota: Dialog Jadi Solusi, Pengacara Soroti Dampak Aksi di Depan LPS Surabaya
beritakeadilan.com,

SURABAYA, JAWA TIMUR  – Aksi unjuk rasa buruh PT Pakerin di depan kantor PT Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Surabaya menuai perhatian berbagai pihak. Selain berdampak pada arus lalu lintas di kawasan protokol Embong Malang, aksi tersebut juga memicu kekhawatiran pelaku usaha dan masyarakat sekitar.

Kantor LPS yang berada di kawasan perkantoran Pakuwon, bersebelahan dengan Tunjungan Plaza, Hotel Sheraton, serta apartemen dalam satu kompleks, menjadikan lokasi tersebut sebagai titik strategis dengan mobilitas tinggi.

Pengacara Pakuwon Jati Tbk, George Handiwiyanto, yang ditemui di lokasi aksi menyampaikan empatinya terhadap aspirasi para buruh. Namun ia menilai, penyampaian tuntutan sebaiknya dilakukan melalui mekanisme dialog dengan perwakilan.

” Saya rasa dengan berdialog lebih efektif ya, karena apa yang dikeluhkan oleh buruh bisa didengar langsung oleh pihak manajemen,” ujar George, Kamis (12/2/2026).

Menurutnya, jalur komunikasi langsung antara perwakilan buruh dan manajemen LPS akan lebih konstruktif serta menghindari dampak luas terhadap masyarakat.

George menyoroti lokasi aksi yang berada di jalan protokol padat kendaraan. Penutupan sebagian lajur menyebabkan kemacetan hingga merambat ke kawasan Basuki Rahmat dan Tunjungan sekitar pukul 16.45 WIB.

Hanya dua dari lima lajur yang dapat dilalui kendaraan secara bergantian. Kondisi tersebut membuat arus lalu lintas tersendat dan mengganggu aktivitas warga serta pekerja di sekitar pusat perbelanjaan.

” Jangan sampai langkah memperjuangkan hak, tapi juga mengganggu hak yang lain terutama para pengguna jalan. Kami dukung sampaikan aspirasi tapi dengan baik dan benar, serta tidak mengganggu atau membuat gaduh, membuat takut orang lain, terutama pekerja di TP dan pengunjung mal,” kata George.

Ia mengingatkan, jika aksi serupa terus berulang dan menyebabkan kemacetan, simpati publik bisa berkurang. Dampaknya bukan hanya pada lalu lintas, tetapi juga terhadap aktivitas ekonomi di kawasan bisnis tersebut.

“Kalau sering demo dan bikin macet, justru masyarakat tidak empati dan simpati, kami pun demikian. Jadi, kami harap sampaikan aspirasi secara bijak, baik, dan benar. Tak perlu sampai membuat macet, apalagi merusak dan membuat resah masyarakat Surabaya,” tuturnya.

Dalam aksi tersebut, massa buruh sempat memadati depan TP 5 dan TP 6 di Embong Malang. Seorang koordinator lapangan dari atas mobil komando berlogo FSPMI mengarahkan perwakilan untuk masuk menemui pihak LPS.

“Ayo, perwakilan korlap 5, setiap korlap bawa 10 orang, masuk ke sana (LPS),” kata seorang korlap aksi.

Sekitar 10 menit kemudian, sebanyak 55 perwakilan massa diterima oleh perwakilan LPS di Pakuwon Tower. Setelah pertemuan berlangsung, massa yang sebelumnya memenuhi badan jalan berangsur menepi dan arus lalu lintas kembali normal.

George berharap aksi serupa tidak kembali terjadi di Kota Surabaya agar masyarakat dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman, tanpa kekhawatiran saat bekerja maupun berkunjung ke pusat perbelanjaan di kawasan tersebut.

Belum ada komentar